Ambil Hikmah dan Perkuat Kepedulian Sosial di Tengah Bencana

Ambil Hikmah dan Perkuat Kepedulian Sosial di Tengah Bencana

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Jumat (5/12).

Khutbah ini disampaikan di tengah kabar duka akibat bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam pembukaannya, Budi menyoroti bencana besar yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa hari terakhir. Ia menyebutkan bahwa jumlah korban dilaporkan sudah mendekati seribu orang.

“Betapa hebatnya air ketika sudah menerjang apa pun di hadapannya,” ujarnya menggambarkan dahsyatnya banjir dan longsor yang terjadi.

Budi kemudian menegaskan bahwa bencana alam bukanlah peristiwa tanpa makna. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155 untuk menjelaskan bahwa ujian berupa rasa takut, lapar, kekurangan harta, dan hilangnya jiwa adalah bagian dari ketetapan Allah.

“Ujian adalah sebuah keniscayaan, termasuk melalui bencana alam yang kita lihat sekarang ini,” jelasnya.

Dalam penjelasannya, Budi menguraikan beberapa dimensi yang harus diperhatikan umat Islam ketika menghadapi musibah. Pertama, bencana adalah pengingat sekaligus pelajaran bagi manusia. Ia menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sering terlena oleh kemajuan teknologi hingga lupa bahwa alam berada dalam genggaman Allah.

Baca Juga  Daftar Masjid Muhammadiyah di Kabupaten Blora untuk Sholat Jumat

Mengutip Surah Ar-Rum ayat 41, ia menyampaikan bahwa kerusakan di daratan dan lautan banyak disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Karena itu, ia menyerukan pentingnya memperbaiki perilaku, menjaga alam, dan menghindari tindakan-tindakan yang merusak lingkungan.

Poin kedua, Budi menegaskan bahwa bencana adalah ujian kesabaran dan keteguhan iman. Ia mengutip hadis riwayat Tirmidzi: “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian.” Menurutnya, bagi seorang mukmin, bencana dapat menjadi sarana penghapus dosa sekaligus peningkat derajat spiritual.

“Jadikanlah bencana sebagai ujian yang dapat mengubah hidup dan mengangkat derajat,” serunya kepada jamaah.

Pada poin ketiga, Budi menekankan bahwa bencana menguji solidaritas sosial umat. Mengutip hadis Nabi yang menggambarkan mukmin sebagai bangunan yang saling menguatkan, ia menyerukan supaya umat Islam menunjukkan simpati, empati, dan membantu para korban bencana sesuai kemampuan.

Ia juga mengajak jamaah menyalurkan bantuan melalui lembaga-lembaga resmi Muhammadiyah seperti Lazismu dan MDMC yang sudah terjun langsung di lokasi bencana.

“Jika tidak bisa membantu dengan dana, kita bisa membantu dengan tenaga. Jika tidak dengan tenaga, kita bisa membantu dengan doa,” ujarnya. Bahkan, lanjutnya, di era teknologi canggih seperti saat ini, jamaah dapat berkontribusi dengan menyebarkan informasi penggalangan donasi dan dukungan.

Baca Juga  Argumentasi Keabsahan Berdasarkan Al-Quran dan Hadis

Dalam khutbah kedua, Budi kembali mengingatkan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ia menyebutkan lima hal yang perlu diperhatikan ketika menghadapi bencana:

  1. Mengambil hikmah dan memperbanyak istigfar.
  2. Bersabar dan tidak putus asa.
  3. Membantu sesama.
  4. Memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.
  5. Menjaga alam sebagai amanah.

Menutup khutbahnya, Budi memimpin doa agar Allah melimpahkan rahmat, hidayah, dan pertolongan bagi seluruh umat, termasuk mereka yang sedang dilanda musibah