Menjaga Marwah Persyarikatan: Muhammadiyah Harus Melawan Premanisme Organisasi

Ahmad Basyiruddin, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhamamdiyah Blora
Ahmad Basyiruddin, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhamamdiyah Blora

Oleh: Ahmad Basyiruddin (Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Blora)

Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi otonom yang tertib, modern, dan berkemajuan. Kekuatan utama kita bukan pada kharisma personal satu atau dua orang, melainkan pada kekuatan sistem. Namun, tantangan besar kini muncul dari dalam: Premanisme Organisasi.

Apa itu premanisme organisasi? Ia tidak selalu berarti kekerasan fisik di jalanan. Premanisme organisasi adalah sebuah kondisi di mana kader atau pimpinan merasa lebih besar dari sistem. Ini terjadi ketika individu-individu di dalamnya tidak lagi mau mengikuti alur organisasi yang telah disepakati, mengabaikan AD/ART, dan merasa memiliki hak istimewa untuk memotong kompas demi kepentingan tertentu.

Belajar dari “Tetangga Sebelah”

Kita harus jujur melihat realitas sosial. Jangan sampai Muhammadiyah terjebak dalam lubang yang sama seperti “organisasi sebelah”. Kita sering melihat bagaimana sebuah organisasi besar menjadi rapuh karena faksionalisme yang tajam, di mana instruksi persyarikatan diabaikan oleh ranting, cabang, daerah, atau pimpinan wilayah bertindak seolah-olah mereka adalah raja kecil yang tak tersentuh aturan.

Jika kader Muhammadiyah sudah mulai “bermain sendiri” tanpa koordinasi, atau pimpinan mengambil keputusan di warung kopi tanpa melalui mekanisme rapat resmi, maka itulah bibit premanisme. Jika ini dibiarkan, marwah persyarikatan akan runtuh, dan kita hanya akan menjadi sekumpulan massa yang tidak terorganisir.

Kembali ke Khittah Musyawarah

Di Muhammadiyah, tidak ada ruang untuk ego tunggal. Prinsip kita adalah Kolektif-Kolegial. Artinya, semua hal—sepahit apa pun itu—harus dimusyawarahkan.

Musyawarah bukan sekadar formalitas untuk melegitimasi keinginan pimpinan. Musyawarah adalah ruang di mana ego pribadi harus ditundukkan di bawah kepentingan umat dan organisasi. Kita tidak boleh membiarkan satu orang mendikte arah organisasi hanya karena ia merasa paling senior, paling berjasa, atau paling kuat secara finansial.

Tinggalkan Ego Pribadi

Sebagai sesama kader Muhammadiyah, saya menghimbau kepada seluruh rekan-rekan seperjuangan: Tinggalkan ego pribadi. Muhammadiyah ini adalah kapal besar milik umat, bukan sekoci pribadi untuk mencapai ambisi politik atau status sosial.

Jika alur organisasi menentukan A, maka sebagai kader yang sam’an wa tha’atan (mendengar dan taat) pada sistem, kita harus mengikutinya. Melawan alur organisasi tanpa alasan syar’i dan mekanisme yang benar adalah bentuk pembangkangan yang merusak tatanan.

Mari kita jaga Muhammadiyah agar tetap menjadi organisasi yang anggun dalam moral dan kokoh dalam sistem. Lawan segala bentuk premanisme organisasi dengan disiplin, tertib administratif, dan ketulusan hati untuk berkhidmat.

Hanya dengan cara itulah, matahari akan tetap bersinar terang tanpa terhalang oleh ego-ego gelap yang ingin merusak dari dalam.

Billahi Fisabilillaq Fastabiqul Khoirot