MUHAMMADIYAHBLORA.ORD.ID, BLORA – Memasuki fase sepuluh hari terakhir di bulan suci Ramadan, perhatian umat Islam mulai tertuju pada satu malam yang sangat istimewa yaitu malam Lailatul Qadar. Sebagai malam yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan (خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ), Lailatul Qadar menjadi momen krusial bagi warga Muhammadiyah untuk melakukan akselerasi spiritual dan dakwah melalui peningkatan kualitas ibadah.
Muhammadiyah, melalui panduan dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), menekankan bahwa meraih kemuliaan malam ini bukanlah tentang menunggu keajaiban fisik secara pasif, melainkan sebuah ikhtiar aktif dalam menghidupkan malam-malam terakhir dengan iman dan mengharap rida Allah (iman wa ihtisaban). Sesuai dengan teladan Rasulullah SAW, sepuluh hari terakhir adalah waktu di mana beliau mengencangkan ikat pinggang, menjauhi tempat tidur, dan mengajak keluarganya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Hakikat Lailatul Qadar dalam Manhaj Tarjih
Secara teologis, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah memandang Lailatul Qadar sebagai malam penetapan atau kemuliaan. Di malam inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan (Nuzulul Qur’an) sebagai hudan atau petunjuk bagi umat manusia. Kemuliaan malam ini ditandai dengan turunnya para malaikat dan Malaikat Jibril ke bumi dengan membawa kedamaian dan kesejahteraan hingga terbit fajar.
Dalam perspektif Islam berkemajuan, keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya berhenti pada ritual di dalam masjid. Semangat malam kemuliaan ini harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial. Artinya, seorang muslim yang mengejar Lailatul Qadar juga harus menjadi pribadi yang lebih peka terhadap kondisi sosial, memperkuat sedekah jariyah, dan menyempurnakan kewajiban zakatnya. Inilah esensi dari keseimbangan antara hubungan vertikal (hablum minallah) dan horizontal (hablum minannas).
Panduan Iktikaf yang Sesuai Sunah
Salah satu instrumen utama untuk meraih Lailatul Qadar adalah dengan melaksanakan Iktikaf. Muhammadiyah mendefinisikan iktikaf sebagai aktivitas berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Iktikaf merupakan sarana untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara mendalam atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Berikut adalah poin-poin penting iktikaf yang dianjurkan dalam HPT Muhammadiyah:
- Niat yang Tulus: Iktikaf harus didasari oleh keinginan kuat untuk membersihkan jiwa dari kotoran hati.
- Tempat Pelaksanaan: Idealnya dilaksanakan di masjid jami atau masjid yang menyelenggarakan salat berjamaah untuk menjaga keterikatan dengan syiar berjamaah.
- Aktivitas Ibadah: Mengisi waktu dengan memperbanyak salat lail (tahajud), memperdalam literasi Al-Qur’an melalui tadarus dan pemahaman tafsir, serta berzikir secara khusyuk.
- Menghindari Pembatal Iktikaf: Menghindari keluar dari masjid tanpa kepentingan syar’i yang mendesak dan menjaga diri dari perbuatan sia-sia yang dapat merusak kualitas ibadah.
Strategi Meraih Malam Kemuliaan di Era Modern
Di era digital ini, Muhammadiyah mendorong warganya untuk tidak terjebak pada ritualitas formal semata. Penguatan literasi keagamaan menjadi sangat penting. Alih-alih hanya sekadar terjaga di malam hari, umat diajak untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sains, sosial, dan kemanusiaan sebagai bentuk tafakkur.
Selain itu, mengoptimalkan infak dan sedekah di sepuluh hari terakhir memiliki nilai filosofis yang tinggi. Amal kebaikan yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar dinilai sebagaimana melakukannya selama seribu bulan. Hal ini menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memberikan dampak nyata bagi persyarikatan dan umat melalui donasi yang tepat sasaran.
Penutup: Meraih Takwa yang Sejati
Menjemput Lailatul Qadar adalah tentang konsistensi (istiqamah). Muhammadiyah mengajarkan agar semangat ibadah tidak hanya berkobar di awal Ramadan, tetapi justru mencapai puncaknya di garis finis. Dengan memanjatkan doa yang diajarkan Nabi, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي), kita berharap Allah menghapuskan segala dosa masa lalu dan membimbing kita menuju kehidupan yang lebih mencerahkan.
Semoga di fase sepuluh hari terakhir Ramadan 2026 ini, kita diberikan kekuatan lahir dan batin untuk bertemu dengan Malam Lailatul Qadar, malam penuh ampunan yang mampu mengubah takdir hamba-Nya menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berkemajuan.










Leave a Reply
View Comments